Langsung ke konten utama

Halal Bi Halal MA Walisongo Pecangaan

Keluarga besar Madrasah Aliyah Walisongo Pecangaan Jepara mengadakan Halal Bi Halal, Sabtu (10/9) kemarin di halaman sekolah. Halal Bi Halal diikuti seluruh guru, karyawan dan siswa.

Kegiatan yang dimulai dengan apel itu merupakan tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan setelah hari raya idul fitri. Selain sebagai kegiatan awal sebelum proses pembelajaran. Halal Bi Halal juga merupakan sarana untuk bersitarurahmi dan memperkokoh hubungan harmonis antara guru dengan murid.

Kepala Madrasah, Drs Rohmadi AF dalam pidatonya mengatakan bahwa acara tersebut merupakan ajang untuk saling memaafkan dan berintropeksi diri, antara guru dengan murid maupun sebaliknya. “Pada saat terlaksananya proses belajar-mengajar terkadang tercipta suatu kesalahan, baik hal itu dari guru maupun dari murid. Maka dengan adanya hal ini kami harapkan antara guru dengan murid saling memaafkan,” ungkapnya.

“Pasca libur hari raya idul fitri kami harapkan siswa akan lebih bersemangat dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan waktu yang tinggal sebentar untuk menghadapi Ulangan Mid Semester, kegiatan pembelajaran  akan berjalan dengan efektif,” tambah Rohmadi.

Drs Santoso, wakil kepala bagian kurikulum menuturkan bahwa setelah kegiatan tersebut pembelajaran diupayakan efektif. “Kegiatan pembelajaran pada hari pertama masuk ini akan berjalan seperti biasanya. Tidak ada budaya pulang pagi untuk madrasah kita,” tuturnya.

Setelah apel dan pemberian ceramah dari kepala Madrasah dilanjutkan musafahah (berjabat tangan). Selain bermusafahah dengan keluarga besar, guru dan karyawan MA Walisongo juga akan berkeliling untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar sekolah tersebut.

Ahmad Mukhlisin A.Md, wakil Kepala bagian Hubungan Masyarakat menjelaskan bahwa Halal Bi Halal dengan tetangga sekitar sangat penting karena warga sekitar merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari warga MA Walisongo. “Apabila terjaling hubungan yang harmonis antara madrasah dengan masyarakat maka akan terbentuk sebuah keluarga yang kokoh,” jelasnya. (Rif’ul Mazid Maulana)

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Dulu Dan Kini

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Seorang pakar pendidikan Islam berdarah hadrami, al Habib Abu Bakar al Masyhur al Adni, Pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah) adalah pendidikan dan peningkatan diri atas adab, akhlak, patuh akan syariat dan jauh akan larangannya. Mengikuti kata hati berdasarkan rasa tanggung jawab terhadap Dinnya serta rasa cinta pada Allah SWT. dan Rasulnya SAW. juga berkhidmat dengan cara yang benar pada umat sembari memasyarakatkan kebaikan dan menepis kehinaan dan kerendahan moral.  Pendidikan islam pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan tingkat kec...

Sejarah Desa Troso

Sejarah Desa Troso tidak dapat di pisahkan dari peristiwa peperangan antara Sultan Hadirin dengan Arya Penangsang yang terjadi di sebuah daerah di Kabupaten Kudus. Pada peperangan tersebut Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Panangsang. Sultan Hadirin merupakan suami dari Ratu Kaliyamat adipati Jepara. Selanjutnya, jenazah Sultan Hadirin dibawa dari Kudus ke Jepara dengan cara dipikul oleh orang (Pengikutnya). Singkat cerita, ketika para pemikul jenazah sampai di suatu tempat, mereka telah menghirup bau yang busuk, dalam bahasa jawa berarti “Purwo” yang berarti permulaan dan “Gondo” yang berarti bau busuk. Sehingga daerah tersebut sekarang di beri nama Desa Purwogondo. Sesampainya di Pecangaan para pemikul jenazah tersebut sudah sangat lelah, namun karena itu menjadi suatu pengabdian kepada Pupundennya (Orang yang sangat di hormati) hal tersebut tetap di laksanakan.

Tiga Calon Rektor Unnes 2014-2018

Dari Kiri : Supriadi Rustad, Fathur Rokhman, Suwito Eko Pramono  Badan Pekerja Senat Universitas Negeri Semarang (Unnes) tetapkan tiga calon dari lima bakal calon rektor, Rabu (18/6). Tiga calon tersebut adalah Supriadi Rustad, Fathur Rokhman, dan Suwito Eko Pramono. Sebelumnya, telah ditetapkan lima bakal calon, kelimanya adalah Achmad Rifai RC (FIP), Fathur Rokhman  (FBS), Martitah (FH), Supriadi Rustad (FMIPA), dan Suwito Eko Pramono. Penetapan calon Rektor Unnes periode 2014-2018 tersebut diawali oleh pemaparan visi, misi dan tanggapan dari masing-masing bakal calon.