Langsung ke konten utama

Masyarakat dan Mahasiswa Sepakat Tolak Pabrik Semen

Semarang-Warga Rembang yang tergabung dalam jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) dan aliansi mahasiswa se-Semarang serentak melakukan aksi penolakan pembangunan penambangan PT Semen Indonesia di daerah Kendeng, Kabupaten Rembang.

Aksi yang digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Kamis (2/4) tersebut diikuti oleh puluhan masyarakat dan ratusan mahasiswa. Marno, koordinator aksi mengatakan bahwa agenda persidangan hari ini pembacaan simpulan.

“Pada hari ini bertepatan pula dengan pembacaan simpulan sehingga semoga hakim dapat mendengarkan suara rakyat yang berpihak pada kelestarian lingkungan,” katanya saat memandu aksi.

Dia menjelaskan bahwa penolakannya didasari oleh berbagai pertimbangan diantaranya penambangan berada dikawasan Cekungan Air Tanah (CAT) sehingga akan berakibat pada krisis air.

“Mata air menjadi sumber utama kehidupan masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani sehingga pembangunan tambang ini sama artinya mematikan mata pencaharian mereka,” jelasnya.

Selain itu, dari data yang dirilis oleh Semarang Caver Association (SCA) di kawasan tersebut ditemukan 49 goa yang tersebar dan 4 goa di antaranya memiliki sungai bawah tanah aktif.

“Jangan sampai sumber mata air yang menyokong kehidupan masyarakat Rembang ini diambil kepentingan segelintir orang.” Ungkapnya. Dia berharap selama proses sidang gugatan operasional dihentikan.

“Kami berharap selama proses gugatan ini operasional dihentikan sampai adanya putusan pengadilan yang tetap,” harapnya. Sukinah, salah satu masyarakat Kendeng mengharapkan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan mahasiswa bersatu menolak perusakan ekologi demi Indonesia lestari.

“Mari selamatkan lingkungan kita dari pihak pihak kapitalis, untuk kelestarian Indonesia,” harapnya. Riful Mazid Maulana

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Desa Troso

Sejarah Desa Troso tidak dapat di pisahkan dari peristiwa peperangan antara Sultan Hadirin dengan Arya Penangsang yang terjadi di sebuah daerah di Kabupaten Kudus. Pada peperangan tersebut Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Panangsang. Sultan Hadirin merupakan suami dari Ratu Kaliyamat adipati Jepara. Selanjutnya, jenazah Sultan Hadirin dibawa dari Kudus ke Jepara dengan cara dipikul oleh orang (Pengikutnya). Singkat cerita, ketika para pemikul jenazah sampai di suatu tempat, mereka telah menghirup bau yang busuk, dalam bahasa jawa berarti “Purwo” yang berarti permulaan dan “Gondo” yang berarti bau busuk. Sehingga daerah tersebut sekarang di beri nama Desa Purwogondo. Sesampainya di Pecangaan para pemikul jenazah tersebut sudah sangat lelah, namun karena itu menjadi suatu pengabdian kepada Pupundennya (Orang yang sangat di hormati) hal tersebut tetap di laksanakan.

Hakim Harus Berpihak Pada Kelestarian Pegunungan Kendeng. Kenapa?

Puluhan perempuan warga Rembang berkebaya, bersama dengan puluhan mahasiswa dari Universitas Semarang, Universitas Diponegoro dan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang serta aliansi mahasiswa di Semarang dan Yogyakarta melakukan aksi dari Museum Ronggowarsito ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (02/04/2015). Sambil membawa spanduk bertuliskan “Jawa Krisis Air dan Jawa Tengah Darurat Tambang”, mereka melakukan aksi di depan PTUN, menolak pendirian pabrik dan penambangan PT. Semen Indonesia, bertepatan dengan lanjutan sidang gugatan warga Rembang kepada Gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin lingkungan untuk penambangan kepada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, sekarang PT Semen Indonesia. Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando Warga Rembang dan koalisi mahasiswa ...

Gus Mus: Media Online Dikuasai Orang Tak Paham Agama

Musthofa Bisri (Gus Mus) Semarang -- Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Ahmad Mustofa Bisri, mengaku resah atas peredaran informasi tentang persoalan-persoalan agama yang tersiar di media-media online. Tokoh Nahdlatul Ulama ini menyatakan saat ini teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam. "Itu Masya Allah. Jadinya kacau semua," kata Mustofa Bisri dalam pengajian dalam rangka ulang tahun unit kegiatan mahasiswa di Kampus III Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Senin malam, 30 Maret 2015. Gus Mus mencontohkan, begitu orang membuka mesin pencari di Internet seperti Google mengenai tanya jawab tentang hukum tertentu, maka yang pertama sekali muncul keluar justru dari orang-orang yang tidak jelas. Kata dia, banyak sekali situs-situs berisi agama Islam yang tidak memahami agama secara mendalam. ...