Langsung ke konten utama

Meski Berpuasa, Tetap Semangat Latihan Paskibra

Jepara-Meski berpuasa namun anak-anak Madrasah Aliyah Walisongo Pecangaan tetap bersemangat menjalani latihan Paskibra. Pasalnya, pada tahun ini MA Walisongo mendapatkan amanah untuk menjadi Pasukan Pengibar Bendera oleh Pemerintah Kecamatan Pecangaan, pada Hari Ulang Tahun  (HUT) Kemerdekaan Indonesia, Jum’at (17/08) mendatang.

Latihan Paskibra tersebut di laksanakan rutin setiap hari untuk team delapan dan seminggu tiga kali untuk team tujuh belas dan empat lima. Biasanya latihan di laksanakan mulai pukul 16.00 hingga waktu buka puasa tiba.

Pelda Sudadi, anggota koramil Kecamatan Pecangaan yang bertugas menjadi pembina Paskibra tersebut mengatakan bahwa intensitaf latihan akan di tingkatkan mulai hari Sabtu (11/08).

“Latihan mulai intensif pada tanggal 11 Agustus 2012 yang akan kita konsentrasikan pada gerakan berjalan dan variasi,” Katanya.

Beliau berharap anak-anak Madrasah Aliyah tetap bersemangat untuk latihan hingga nanti pelaksanaan.

“Meskipun pada tahun ini peringatan Upacara HUT Republik Indonesia bertepatan pada bulan ramadhan, namun saya berharap adik-adik tetap bersemangat berlatih hingga nanti pelaksanaan,” harap Pelda Sudadi saat di temui di sela-sela latihan, kamis (09/08) di halaman MA Walisongo Pecangaan.

Muhammad Arif Budiman, salah satu anggota Paskibra MA Walisongo Pecangaan mengaku senang karena dapat bergabung di Paskibra pada tahun ini.

“Saya sangat bersyukur pada tahun ini dapat menjadi anggota Paskibra, karena sejak kecil saya berkeinginan sekali untuk dapat menjadi pengibar bendera tujuh belasan,” Akunya.

Dia mengungkapkan meskipun menguras tenaga tapi tetap semangat karena tidak sembarangan orang dapat mengibarkan bendera merah putih.

“Meskipun latihan Paskibra pada bulan ramadhan ini sangat berat, tapi saya tetap semangat karena tidak semua orang dapat menjadi Pasukan Pengibar Bendera,” Ungkapnya. (Rif’ul Mazid Maulana)

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Desa Troso

Sejarah Desa Troso tidak dapat di pisahkan dari peristiwa peperangan antara Sultan Hadirin dengan Arya Penangsang yang terjadi di sebuah daerah di Kabupaten Kudus. Pada peperangan tersebut Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Panangsang. Sultan Hadirin merupakan suami dari Ratu Kaliyamat adipati Jepara. Selanjutnya, jenazah Sultan Hadirin dibawa dari Kudus ke Jepara dengan cara dipikul oleh orang (Pengikutnya). Singkat cerita, ketika para pemikul jenazah sampai di suatu tempat, mereka telah menghirup bau yang busuk, dalam bahasa jawa berarti “Purwo” yang berarti permulaan dan “Gondo” yang berarti bau busuk. Sehingga daerah tersebut sekarang di beri nama Desa Purwogondo. Sesampainya di Pecangaan para pemikul jenazah tersebut sudah sangat lelah, namun karena itu menjadi suatu pengabdian kepada Pupundennya (Orang yang sangat di hormati) hal tersebut tetap di laksanakan.

Hakim Harus Berpihak Pada Kelestarian Pegunungan Kendeng. Kenapa?

Puluhan perempuan warga Rembang berkebaya, bersama dengan puluhan mahasiswa dari Universitas Semarang, Universitas Diponegoro dan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang serta aliansi mahasiswa di Semarang dan Yogyakarta melakukan aksi dari Museum Ronggowarsito ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (02/04/2015). Sambil membawa spanduk bertuliskan “Jawa Krisis Air dan Jawa Tengah Darurat Tambang”, mereka melakukan aksi di depan PTUN, menolak pendirian pabrik dan penambangan PT. Semen Indonesia, bertepatan dengan lanjutan sidang gugatan warga Rembang kepada Gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin lingkungan untuk penambangan kepada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, sekarang PT Semen Indonesia. Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando Warga Rembang dan koalisi mahasiswa ...

Alissa Wahid, Tolak Semen Rembang

Penolakan pembangunan pabrik semen kini datang dari berbagai tokoh nasional, salah satunya dari Alissa Wahid. Putri sulung mendiang mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrohman Wahid tersebut dalam akun twitternya (@AlissaWahid) secara tidak langsung menyatakan sikap penolakannya terhadap penambangan tersebut yang meresahkan warga Rembang. "when the rich rob the poor, they call it: business. when the poor fight back, they call it: violence." Ketika kelompok kaya merampok miskin, mereka menyebutnya suatu bisnis, Ketika orang miskin melawan, mereka menyebutnya kekerasan.(Red) Permainan kaum kapitalisme belakangan ini memang sangat mengkhawatirkan. Penindasan dan perebutan kekuasaan kepada kaum miskin terus menerus dilakukan. Mereka menganggaap bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah, karena telah berlandaskan hukum negara yang ada namun perlu kita ketahui bahwa kita juga memiliki hati dan perasaan untuk mempertimbangkan segala keputusan yang kita ambil, bukan h...