I’m a journalist for the local newspaper. I enjoy my job and the whole team there is just wonderful.

Gelora Perubahan ©

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular

Resume

Employment

Education

Portfolio

Recent Posts

Penolakan pembangunan pabrik semen kini datang dari berbagai tokoh nasional, salah satunya dari Alissa Wahid. Putri sulung mendiang mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrohman Wahid tersebut dalam akun twitternya (@AlissaWahid) secara tidak langsung menyatakan sikap penolakannya terhadap penambangan tersebut yang meresahkan warga Rembang.

"when the rich rob the poor, they call it: business.
when the poor fight back, they call it: violence."

Ketika kelompok kaya merampok miskin, mereka menyebutnya suatu bisnis,
Ketika orang miskin melawan, mereka menyebutnya kekerasan.(Red)

Permainan kaum kapitalisme belakangan ini memang sangat mengkhawatirkan. Penindasan dan perebutan kekuasaan kepada kaum miskin terus menerus dilakukan. Mereka menganggaap bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah, karena telah berlandaskan hukum negara yang ada namun perlu kita ketahui bahwa kita juga memiliki hati dan perasaan untuk mempertimbangkan segala keputusan yang kita ambil, bukan hanya sekedar untuk memperkaya diri. Bukan hanya memperhitungkan untung dan rugi namun kita juga perlu memperhatikan kemaslahatan manusia.

Namun, ketika masyarakat miskin melakukan penentangan dan pemboikotan, kaum kapitalis menganggapnya sebagai bentuk perlawanan dan kekerasan yang harus segera dilawan. Kini segala upaya dan cara dilakukan agar kebijakan yang memihak kepada kaum kapitalis segera dikeluarkan agar kedudukannya tidak terusik jeritan hati rakyat meskin yang menuntut keadilan.


Penguasaan kaum penguasa memang sudah tidak bisa elakkan lagi, semboyan semua bisa dibeli dengan uang mungkin memang pantas untuk disandangkan. Semua seolah bisa dibeli tanpa memperhatikan keseimbangan dan jeritan hati manusia. Keseimbangan dan kelestarian harus kita pertahankan karena hanya itulah satu-satunya warisan yang bisa kita berikan kepada anak cucu kita nantinya. Apakah hanya cerita saja yang bisa kita berikat? ataukah hanya lukisan hayal yang tidak bisa kita buktikan yang kita berikat? Entahlah, hanya diri kitalah yang bisa menjawabnya.


Read more Posted Under:
Assalamu'alaikum.
Kepada Rekan-rekan Aktivis Mahasiswa dari seluruh elemen di seluruh Indonesia.
Kami menyampaikan bahwa Informasi ajakan seruan Aksi pada tgl 20 Mei 2015 yg tersebar akhir-akhir ini di media sosial, broadcast dll adalah bukan berasal dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).
Ini adalah bentuk kebohongan dan klim atas nama BEM SI yg bertujuan utk mengkonstruksi dan membangun opini serta memprovokasi mahasiswa baik internal BEM SI maupun eksternal.
Kami menegaskan bahwa kami akan terus mengawal kebijakan pemerintah Jokowi-JK dengan Kajian Strategis yg Rasional tidak menggunakan asumsi atau opini semata.
Kami berharap kepada semua yg mendapatkan Informasi tsb untuk tidak menyebar luaskan.
JANGAN SAMPAI TERPROVOKASI APALAGI TERBOHONGI.
Terima Kasih atas perhatiannya.
Rabu, 8 April 2015
Koordinator Pusat BEM SI
Ahmad Khairudin Syam
Read more Posted Under:
Puluhan perempuan warga Rembang berkebaya, bersama dengan puluhan mahasiswa dari Universitas Semarang, Universitas Diponegoro dan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang serta aliansi mahasiswa di Semarang dan Yogyakarta melakukan aksi dari Museum Ronggowarsito ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (02/04/2015).

Sambil membawa spanduk bertuliskan “Jawa Krisis Air dan Jawa Tengah Darurat Tambang”, mereka melakukan aksi di depan PTUN, menolak pendirian pabrik dan penambangan PT. Semen Indonesia, bertepatan dengan lanjutan sidang gugatan warga Rembang kepada Gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin lingkungan untuk penambangan kepada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, sekarang PT Semen Indonesia.

Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando
Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando

Dalam aksi itu, Marno, warga Tegaldowo jadi kordinator aksi berorasi agar hakim dapat memutuskan perkara dengan jujur, adil, bersandar pada fakta di persidangan, jujur dan berpihak pada kelestarian lingkungan.

“Kami sudah sejahtera dengan bertani. Tambang akan bikin gunung kendeng rusak, dan sumber air hilang,” kata Marno.

Dia mengatakan penambangan yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia tersebut berada di kawasan lindung geologi Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih. Berdasarkan hasil penelitian Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), dikawasan itu ada 49 goa dan 109 mata air yang menjadi sumber air bagi kehidupan masyarakat dan pertanian mereka di 14 kecamatan, di Kabupaten Rembang.

Izin lingkungan Gubernur Jawa Tengah 660.1/17 tahun 2012 bertentangan dengan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 junto Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Rembang tahun 2011-2031 junto Keppres Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah, termasuk CAT Watuputih.

Sedangkan Muhnur Satyaprabu dari Walhi selaku kuasa hukum warga mengatakan mereka telah menyimpulkan ada empat fakta penting yang harus dipertimbangkan hakim, yaitu gugatan masyarakat dan Walhi ini benar-benar punya hak mengajukan gugatan, kawasan yang menjadi lokasi pertambangan adalah kawasan yang berfungsi karst dan sudah ditetapkan sebagai CAT, kawasan karst lokasi tambang dilindungi sesuai PP No.26/2008.

“Pemerintah harus menghentikan pendirian pabrik dan penambangan karena melanggara hak asasi manusia. Semoga hakim jeli melihat ada pertentangan hukum yang sangat fundamental dan ada pertentangan data yang mendasar, sehingga bisa menjadi dasar yang kuat untuk membatalkan ijin pertambangan PT Semen Indonesia,” kata Muhnur.

Tanggapan Kuasa Hukum PT. Semen Indonesia

Dalam persidangan yang diketuai hakim Susilowati Siahaan SH, dengan hakim anggota Husein Amin Effendi SH dan Desy Wulandari SH, kuasa hukum Tergugat II Intervensi, Handarbeni Imam Ariyoso mengatakan mereka menyimpulkan agar majelis hakim menolak gugatan dari penggugat, dan menolak permohonan penundaan proses pembangunan pabrik PT Semen Indonesia Tbk yang diajukan penggugat.

Ia mengatakan fakta di persidangan menyebutkan masyarakat belum merasakan atau menderita kerugian karena secara hukum kegiatan penambangan dan pabrik semen belum terlaksana. Dari sisi pokok perkara, seluruh gugatan para penggugat layak untuk ditolak.

Majelis hakim bisa menyatakan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang adalah sah dan mengikat secara hukum.

Di persidangan bahwa surat izin yang menjadi objek sengketa tidak cacat hukum dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dia mencontohkan, wilayah penambangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terbukti tidak berada di atas Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, di luar kawasan imbuhan air.

PT Semen Indonesia telah memiliki langkah-langkah pengendalian kegiatan, termasuk reklamasi serta adanya wawasan lingkungan dalam pendirian pabrik dan penambangan seperti tertuang dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam pembuatan dan pengurusan AMDAL tidak mengandung kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran atau pemalsuan data, dokumen, dan informasi. Dalam persidangan terbukti penerbitan surat izin tidak melanggar asas partisipatif masyarakat.

Hakim ketua Susilowati Siahaan mengatakan mereka sudah menerima tiga kesimpulan dari para pihak yakni penggugat, tergugat dan tergugat intervensi. Majelis hakim kemudian menutup sidang, dan akan dilanjutkan pada Kamis (16/04/2015) dengan  agenda pembacaan kesimpulan atau putusan.

“Keputusan hakim akan ada yang menang dan kalah. Saya harap nanti tidak ada yang anarkis. Masih ada upaya hukum lain yang bisa ditempuh. Dan sidang ditunda hingga 16 April 2015 mendatang,”kata Susilowati.

Solidaritas Dari Daerah

Pada saat bersamaan, dukungan terhadap warga Rembang yang menolak pertambangan dan pabrik PT Semen Indonesia dilakukan diberbagai daerah yakni di Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Jakarta dan Cirebon. Di DI Yogyakarta aksi berpusat di gedung pusat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Selain melakukan orasi, perwakilan masyarakat juga mempertanyakan keberlanjutan tim evaluasi dan dokumen yang dibentuk UGM terhadap keterangan dua dosen UGM yang dianggap memberikan keterangan yang tidak jujur di PTUN Semarang.

 Adapted : www.mongabay.co.id
Read more Posted Under:
Sehubungan dengan telah berakhirnya penerimaan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) bagi mahasiswa Universitas Negeri Semarang tahun 2014, dengan ini kami beritahukan bahwa berdasarkan Surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor : 66/E3.3/Bd/2015 tentang Beasiswa/Bantuan Biaya Pendidikan PPA Tahun 2015 dengan besaran beasiswa Rp. 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah)/mahasiswa/bulan selama 12 (dua belas) bulan. Menindaklanjuti hal tersebut maka dibuka pendaftaran Beasiswa PPA dan BBP-PPA secara online mulai tanggal 07 April 2015 pukul 07:00:00 WIB sampai dengan 19 April 2015 pukul 23:59:59 WIB. Untuk melakukan pendaftaran silakan klik menu Pendaftaran Beasiswa pada bar di sebelah kanan.

Info lebih lanjut : beasiswa.unnes.ac.id
Read more Posted Under: , ,
Oleh Muhammad Sholekan

Terlepas dari Pro terhadap pembangunan Pabrik Semen di Rembang, yang katanya akan memberikan kesejahteraan, peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat sekitar pabrik, sampai pada peningkatan pendapatan dan modernisasi. Dalam aksi yang dilakukan oleh pendukung pembangunan pabrik semen kemaren (02/04) di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, masyarakat yang pro terhadap pembangunan pabrik semen mengelukan aksi damai, rukun, dan di beberapa rilis yang ditulis adalah melulu soal kesejahteraan, kemakmuran dan modernisasi. Hai, para pendukung pembangunan pabrik semen, perlu kalian ketahui sekretaris PT Semen Indonesia dalam keterangannya di Kompas harian, menuturkan bahwa pihaknya tidak berjanji akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar pabrik semen. Apa kalian tidak baca itu? Kesejahteraan apa yang akan kalian dapatkan? Justru debu yang akan terbang di sekitar rumah kalian. Dalam aksi yang kalian usung kemaren, aksi damai warga Ring 1. Selama ini yang dilakukan oleh ibu-ibu dan para pejuang lain apakah tidak damai? Dalam aksi kemaren pun kami tidak melakukan tindakan kekerasan apapun, bahkan kami pun dengan tertib di bawah kawalan aparat kepolisian.

Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Semarang dan Jogja, bersama pula masyarakat sekitar pegunungan kendeng di Kecamatan Tegaldowo, Rembang ramai-ramai “menggeruduk” PTUN Semarang untuk mendesak Majelis Hakim agar kelak putusannya nanti berpihak pada masyarakat dan linkungan, bukan untuk berpihak pada Negara dalam bayang-bayang PT Semen Indonesia. Tumpah ruah dalam satu aksi bersama, Mahasiswa dan Ibu-ibu penjaga Pegunungan menyuarakan aspirasinya. Mereka takut kalau pegunungan kendeng ditambang. Paling tidak tambang yang sama pula berdiri di Kabupaten Tuban menjadi contoh, dan penolakan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kecamatan Sukolilo, Pati menjadi tamparan keras bagi Pemerintah dan PT Semen.

Ini tentang Kemanusiaan dan Rantai Kehidupan untuk Anak Cucu kelak, pertanian khususnya. Pertanian merupakan lading penghidupan bagi petani, kemurahan sang Pencipta memberikan tanah, air dan bumi sangat disadari betul oleh para petani. Dengan mengolah sawah, sehingga bisa ditanam, dirawat sedemikian rupa, sampailah pada proses panen. Rantai kehidupan yang akan terus menerus berputar, sebagaimana hukum yang ditentukan oleh alam. Siapa menanam dia pasti akan mengunduh. Namun, rantai makanan dan penghipan itu kini terancam dengan didirikannya pabrik yang akan memberangus lahan, dengan proses eksploitasi besar-besaran terhadap bumi yang menyimpan ribuan bahkan jutaan kubik air. Kesejahteraan macam apa? Justru malah ancaman penghidupan kemanusiaan. Negara lewat sebuah korporasi besar, membayangi kehidupan kemanusiaan tersebut. Negara seharusnya hadir sebagai pemberi kesejahteraan (Welfare State), bukan malah mengancam kesejahteraan.

Adapted : simpulsemarang.com
Read more Posted Under:

Press Release aksi
JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng)

Salam,
Gerakan penyelamatan Jawa memasuki babak baru dengan adanya kasus Rembang. Lewat kasus ini kita menyaksikan bagaimana rakyat berjuang untuk memperjuangkan haknya akan kehidupan yg aman dari ancamn bencana. Disaat yg bersamaan kita juga menyaksikan bagaimana kebijakan pemeritah tidak berpihak kepada mereka yg miskin akses kebijakan. Sebuah kondisi yg oleh Soekarno disebut sebagi vivere pericoluso. Sebuah pengulangan dari proses penjajahan sebuah kelompok oleh kelompok lain.

Di kasus ini pula kita menyaksikan bagaimana solidaritas untuk Rembang menyebar di berbagai kota dengan beragam bentuk. Kota-kota seperti Jogja, Semarang, Surabaya, jakarta, Makassar, bali, bandung, dan lain-lain bahkan sampai keluar negeri oleh jaringan BMI menggelar berbagai aksi solidaritas untuk Rembang. Tak hanya aksi turun ke jalan, solidaritas juga hadir di media-media alternatif macam twitter, facebook, Youtube dan lainnya. Kasus Rembang menjadi penegasan tentang pentingnya menyelamatkan Jawa dari ancaman krisis.

Namun gerakan ini seakan menemui kebuntuan ketika formasi kebijakan pembangunan dan keberpihakan politik tidak pada mereka yang berpihak pada rakyat rembang yang memperjuagkan alam. Momentum krusial untuk kasus Rembang adalah putusan PTUN Semarang pada 16 April 2015. Untuk itu eskalasi kasus Rembang harus dinaikkan pada pengambil kebijakan di pusat kekuasaan, yaitu presiden Joko Widodo.
Sembilan ibu-ibu Rembang akan mengirim surat ke presiden Joko Widodo dan memainkan Lesungan di depan istana negara dengan harapan bisa bertemu dengan Presiden untuk membatalkan pembangunan pabrik semen PT. Semen Indonesia di Rembang dan di Kendeng. Aksi ini bertajuk "9 Kartini dari Rembang mencari Jokowi".

Melalui surat elektronik ini kami mengajak setiap individu maupun lembaga yang ingin befsolidaritas untuk mendukung aksi ini. aksi akan di gelar hari ini senin, 06 april 2014 pukul 16.00 Wib di depan istana negara.

Untuk kawan Jaringan yang ada di Jakarta silahkan bergabung bersama kami
Cp : A. Wijaya (08562740008)
Read more Posted Under:

Jumat, 10 April 2015

Alissa Wahid, Tolak Semen Rembang

Penolakan pembangunan pabrik semen kini datang dari berbagai tokoh nasional, salah satunya dari Alissa Wahid. Putri sulung mendiang mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrohman Wahid tersebut dalam akun twitternya (@AlissaWahid) secara tidak langsung menyatakan sikap penolakannya terhadap penambangan tersebut yang meresahkan warga Rembang.

"when the rich rob the poor, they call it: business.
when the poor fight back, they call it: violence."

Ketika kelompok kaya merampok miskin, mereka menyebutnya suatu bisnis,
Ketika orang miskin melawan, mereka menyebutnya kekerasan.(Red)

Permainan kaum kapitalisme belakangan ini memang sangat mengkhawatirkan. Penindasan dan perebutan kekuasaan kepada kaum miskin terus menerus dilakukan. Mereka menganggaap bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah, karena telah berlandaskan hukum negara yang ada namun perlu kita ketahui bahwa kita juga memiliki hati dan perasaan untuk mempertimbangkan segala keputusan yang kita ambil, bukan hanya sekedar untuk memperkaya diri. Bukan hanya memperhitungkan untung dan rugi namun kita juga perlu memperhatikan kemaslahatan manusia.

Namun, ketika masyarakat miskin melakukan penentangan dan pemboikotan, kaum kapitalis menganggapnya sebagai bentuk perlawanan dan kekerasan yang harus segera dilawan. Kini segala upaya dan cara dilakukan agar kebijakan yang memihak kepada kaum kapitalis segera dikeluarkan agar kedudukannya tidak terusik jeritan hati rakyat meskin yang menuntut keadilan.


Penguasaan kaum penguasa memang sudah tidak bisa elakkan lagi, semboyan semua bisa dibeli dengan uang mungkin memang pantas untuk disandangkan. Semua seolah bisa dibeli tanpa memperhatikan keseimbangan dan jeritan hati manusia. Keseimbangan dan kelestarian harus kita pertahankan karena hanya itulah satu-satunya warisan yang bisa kita berikan kepada anak cucu kita nantinya. Apakah hanya cerita saja yang bisa kita berikat? ataukah hanya lukisan hayal yang tidak bisa kita buktikan yang kita berikat? Entahlah, hanya diri kitalah yang bisa menjawabnya.


Selasa, 07 April 2015

BEM SI Tolak Sebarkan Berita Provokasi

Assalamu'alaikum.
Kepada Rekan-rekan Aktivis Mahasiswa dari seluruh elemen di seluruh Indonesia.
Kami menyampaikan bahwa Informasi ajakan seruan Aksi pada tgl 20 Mei 2015 yg tersebar akhir-akhir ini di media sosial, broadcast dll adalah bukan berasal dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).
Ini adalah bentuk kebohongan dan klim atas nama BEM SI yg bertujuan utk mengkonstruksi dan membangun opini serta memprovokasi mahasiswa baik internal BEM SI maupun eksternal.
Kami menegaskan bahwa kami akan terus mengawal kebijakan pemerintah Jokowi-JK dengan Kajian Strategis yg Rasional tidak menggunakan asumsi atau opini semata.
Kami berharap kepada semua yg mendapatkan Informasi tsb untuk tidak menyebar luaskan.
JANGAN SAMPAI TERPROVOKASI APALAGI TERBOHONGI.
Terima Kasih atas perhatiannya.
Rabu, 8 April 2015
Koordinator Pusat BEM SI
Ahmad Khairudin Syam

Hakim Harus Berpihak Pada Kelestarian Pegunungan Kendeng. Kenapa?

Puluhan perempuan warga Rembang berkebaya, bersama dengan puluhan mahasiswa dari Universitas Semarang, Universitas Diponegoro dan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang serta aliansi mahasiswa di Semarang dan Yogyakarta melakukan aksi dari Museum Ronggowarsito ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (02/04/2015).

Sambil membawa spanduk bertuliskan “Jawa Krisis Air dan Jawa Tengah Darurat Tambang”, mereka melakukan aksi di depan PTUN, menolak pendirian pabrik dan penambangan PT. Semen Indonesia, bertepatan dengan lanjutan sidang gugatan warga Rembang kepada Gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin lingkungan untuk penambangan kepada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, sekarang PT Semen Indonesia.

Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando
Warga Rembang dan koalisi mahasiswa melakukan aksi menyuarakan bahwa Jawa Tengah darurat tambang dan penolakan pertambangan PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando

Dalam aksi itu, Marno, warga Tegaldowo jadi kordinator aksi berorasi agar hakim dapat memutuskan perkara dengan jujur, adil, bersandar pada fakta di persidangan, jujur dan berpihak pada kelestarian lingkungan.

“Kami sudah sejahtera dengan bertani. Tambang akan bikin gunung kendeng rusak, dan sumber air hilang,” kata Marno.

Dia mengatakan penambangan yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia tersebut berada di kawasan lindung geologi Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih. Berdasarkan hasil penelitian Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), dikawasan itu ada 49 goa dan 109 mata air yang menjadi sumber air bagi kehidupan masyarakat dan pertanian mereka di 14 kecamatan, di Kabupaten Rembang.

Izin lingkungan Gubernur Jawa Tengah 660.1/17 tahun 2012 bertentangan dengan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 junto Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Rembang tahun 2011-2031 junto Keppres Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah, termasuk CAT Watuputih.

Sedangkan Muhnur Satyaprabu dari Walhi selaku kuasa hukum warga mengatakan mereka telah menyimpulkan ada empat fakta penting yang harus dipertimbangkan hakim, yaitu gugatan masyarakat dan Walhi ini benar-benar punya hak mengajukan gugatan, kawasan yang menjadi lokasi pertambangan adalah kawasan yang berfungsi karst dan sudah ditetapkan sebagai CAT, kawasan karst lokasi tambang dilindungi sesuai PP No.26/2008.

“Pemerintah harus menghentikan pendirian pabrik dan penambangan karena melanggara hak asasi manusia. Semoga hakim jeli melihat ada pertentangan hukum yang sangat fundamental dan ada pertentangan data yang mendasar, sehingga bisa menjadi dasar yang kuat untuk membatalkan ijin pertambangan PT Semen Indonesia,” kata Muhnur.

Tanggapan Kuasa Hukum PT. Semen Indonesia

Dalam persidangan yang diketuai hakim Susilowati Siahaan SH, dengan hakim anggota Husein Amin Effendi SH dan Desy Wulandari SH, kuasa hukum Tergugat II Intervensi, Handarbeni Imam Ariyoso mengatakan mereka menyimpulkan agar majelis hakim menolak gugatan dari penggugat, dan menolak permohonan penundaan proses pembangunan pabrik PT Semen Indonesia Tbk yang diajukan penggugat.

Ia mengatakan fakta di persidangan menyebutkan masyarakat belum merasakan atau menderita kerugian karena secara hukum kegiatan penambangan dan pabrik semen belum terlaksana. Dari sisi pokok perkara, seluruh gugatan para penggugat layak untuk ditolak.

Majelis hakim bisa menyatakan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang adalah sah dan mengikat secara hukum.

Di persidangan bahwa surat izin yang menjadi objek sengketa tidak cacat hukum dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dia mencontohkan, wilayah penambangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terbukti tidak berada di atas Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, di luar kawasan imbuhan air.

PT Semen Indonesia telah memiliki langkah-langkah pengendalian kegiatan, termasuk reklamasi serta adanya wawasan lingkungan dalam pendirian pabrik dan penambangan seperti tertuang dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam pembuatan dan pengurusan AMDAL tidak mengandung kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran atau pemalsuan data, dokumen, dan informasi. Dalam persidangan terbukti penerbitan surat izin tidak melanggar asas partisipatif masyarakat.

Hakim ketua Susilowati Siahaan mengatakan mereka sudah menerima tiga kesimpulan dari para pihak yakni penggugat, tergugat dan tergugat intervensi. Majelis hakim kemudian menutup sidang, dan akan dilanjutkan pada Kamis (16/04/2015) dengan  agenda pembacaan kesimpulan atau putusan.

“Keputusan hakim akan ada yang menang dan kalah. Saya harap nanti tidak ada yang anarkis. Masih ada upaya hukum lain yang bisa ditempuh. Dan sidang ditunda hingga 16 April 2015 mendatang,”kata Susilowati.

Solidaritas Dari Daerah

Pada saat bersamaan, dukungan terhadap warga Rembang yang menolak pertambangan dan pabrik PT Semen Indonesia dilakukan diberbagai daerah yakni di Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Jakarta dan Cirebon. Di DI Yogyakarta aksi berpusat di gedung pusat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Selain melakukan orasi, perwakilan masyarakat juga mempertanyakan keberlanjutan tim evaluasi dan dokumen yang dibentuk UGM terhadap keterangan dua dosen UGM yang dianggap memberikan keterangan yang tidak jujur di PTUN Semarang.

 Adapted : www.mongabay.co.id

Beasiswa PPA, BBP-PPA dan Supersemar Tahun 2015 Telah di Buka

Sehubungan dengan telah berakhirnya penerimaan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) bagi mahasiswa Universitas Negeri Semarang tahun 2014, dengan ini kami beritahukan bahwa berdasarkan Surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor : 66/E3.3/Bd/2015 tentang Beasiswa/Bantuan Biaya Pendidikan PPA Tahun 2015 dengan besaran beasiswa Rp. 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah)/mahasiswa/bulan selama 12 (dua belas) bulan. Menindaklanjuti hal tersebut maka dibuka pendaftaran Beasiswa PPA dan BBP-PPA secara online mulai tanggal 07 April 2015 pukul 07:00:00 WIB sampai dengan 19 April 2015 pukul 23:59:59 WIB. Untuk melakukan pendaftaran silakan klik menu Pendaftaran Beasiswa pada bar di sebelah kanan.

Info lebih lanjut : beasiswa.unnes.ac.id

Minggu, 05 April 2015

Persoalan Kemanusiaan dan Rantai Kehidupan untuk Anak Cucu.

Oleh Muhammad Sholekan

Terlepas dari Pro terhadap pembangunan Pabrik Semen di Rembang, yang katanya akan memberikan kesejahteraan, peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat sekitar pabrik, sampai pada peningkatan pendapatan dan modernisasi. Dalam aksi yang dilakukan oleh pendukung pembangunan pabrik semen kemaren (02/04) di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, masyarakat yang pro terhadap pembangunan pabrik semen mengelukan aksi damai, rukun, dan di beberapa rilis yang ditulis adalah melulu soal kesejahteraan, kemakmuran dan modernisasi. Hai, para pendukung pembangunan pabrik semen, perlu kalian ketahui sekretaris PT Semen Indonesia dalam keterangannya di Kompas harian, menuturkan bahwa pihaknya tidak berjanji akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar pabrik semen. Apa kalian tidak baca itu? Kesejahteraan apa yang akan kalian dapatkan? Justru debu yang akan terbang di sekitar rumah kalian. Dalam aksi yang kalian usung kemaren, aksi damai warga Ring 1. Selama ini yang dilakukan oleh ibu-ibu dan para pejuang lain apakah tidak damai? Dalam aksi kemaren pun kami tidak melakukan tindakan kekerasan apapun, bahkan kami pun dengan tertib di bawah kawalan aparat kepolisian.

Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Semarang dan Jogja, bersama pula masyarakat sekitar pegunungan kendeng di Kecamatan Tegaldowo, Rembang ramai-ramai “menggeruduk” PTUN Semarang untuk mendesak Majelis Hakim agar kelak putusannya nanti berpihak pada masyarakat dan linkungan, bukan untuk berpihak pada Negara dalam bayang-bayang PT Semen Indonesia. Tumpah ruah dalam satu aksi bersama, Mahasiswa dan Ibu-ibu penjaga Pegunungan menyuarakan aspirasinya. Mereka takut kalau pegunungan kendeng ditambang. Paling tidak tambang yang sama pula berdiri di Kabupaten Tuban menjadi contoh, dan penolakan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kecamatan Sukolilo, Pati menjadi tamparan keras bagi Pemerintah dan PT Semen.

Ini tentang Kemanusiaan dan Rantai Kehidupan untuk Anak Cucu kelak, pertanian khususnya. Pertanian merupakan lading penghidupan bagi petani, kemurahan sang Pencipta memberikan tanah, air dan bumi sangat disadari betul oleh para petani. Dengan mengolah sawah, sehingga bisa ditanam, dirawat sedemikian rupa, sampailah pada proses panen. Rantai kehidupan yang akan terus menerus berputar, sebagaimana hukum yang ditentukan oleh alam. Siapa menanam dia pasti akan mengunduh. Namun, rantai makanan dan penghipan itu kini terancam dengan didirikannya pabrik yang akan memberangus lahan, dengan proses eksploitasi besar-besaran terhadap bumi yang menyimpan ribuan bahkan jutaan kubik air. Kesejahteraan macam apa? Justru malah ancaman penghidupan kemanusiaan. Negara lewat sebuah korporasi besar, membayangi kehidupan kemanusiaan tersebut. Negara seharusnya hadir sebagai pemberi kesejahteraan (Welfare State), bukan malah mengancam kesejahteraan.

Adapted : simpulsemarang.com

Isi Penolakan Masyarakat Peduli Kendeng


Press Release aksi
JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng)

Salam,
Gerakan penyelamatan Jawa memasuki babak baru dengan adanya kasus Rembang. Lewat kasus ini kita menyaksikan bagaimana rakyat berjuang untuk memperjuangkan haknya akan kehidupan yg aman dari ancamn bencana. Disaat yg bersamaan kita juga menyaksikan bagaimana kebijakan pemeritah tidak berpihak kepada mereka yg miskin akses kebijakan. Sebuah kondisi yg oleh Soekarno disebut sebagi vivere pericoluso. Sebuah pengulangan dari proses penjajahan sebuah kelompok oleh kelompok lain.

Di kasus ini pula kita menyaksikan bagaimana solidaritas untuk Rembang menyebar di berbagai kota dengan beragam bentuk. Kota-kota seperti Jogja, Semarang, Surabaya, jakarta, Makassar, bali, bandung, dan lain-lain bahkan sampai keluar negeri oleh jaringan BMI menggelar berbagai aksi solidaritas untuk Rembang. Tak hanya aksi turun ke jalan, solidaritas juga hadir di media-media alternatif macam twitter, facebook, Youtube dan lainnya. Kasus Rembang menjadi penegasan tentang pentingnya menyelamatkan Jawa dari ancaman krisis.

Namun gerakan ini seakan menemui kebuntuan ketika formasi kebijakan pembangunan dan keberpihakan politik tidak pada mereka yang berpihak pada rakyat rembang yang memperjuagkan alam. Momentum krusial untuk kasus Rembang adalah putusan PTUN Semarang pada 16 April 2015. Untuk itu eskalasi kasus Rembang harus dinaikkan pada pengambil kebijakan di pusat kekuasaan, yaitu presiden Joko Widodo.
Sembilan ibu-ibu Rembang akan mengirim surat ke presiden Joko Widodo dan memainkan Lesungan di depan istana negara dengan harapan bisa bertemu dengan Presiden untuk membatalkan pembangunan pabrik semen PT. Semen Indonesia di Rembang dan di Kendeng. Aksi ini bertajuk "9 Kartini dari Rembang mencari Jokowi".

Melalui surat elektronik ini kami mengajak setiap individu maupun lembaga yang ingin befsolidaritas untuk mendukung aksi ini. aksi akan di gelar hari ini senin, 06 april 2014 pukul 16.00 Wib di depan istana negara.

Untuk kawan Jaringan yang ada di Jakarta silahkan bergabung bersama kami
Cp : A. Wijaya (08562740008)

BERITA

BERITA

BERITA

BERITA

Popular Post

Comments

Videos

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required